LAPORAN
PRAKTIKUM
PENGUKURAN
INSIDENSI DAN INTENSITAS PENYAKIT SERTA PENGUKURAN LAJU INFEKSI PENYAKIT
Oleh
Golongan A/Kelompok 1A
1. Rela
Karunia Putri (141510501126)
2. Dewi
Anita (151510501073)
3. Muhammad
Iqbal Sholeh (151510501090)
LABORATORIUM
HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
1.1
Latar
Belakang
Organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah semua organisme yang dapat menyebabkan
penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan
fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman
budidaya. OPT dibagi menjadi tiga yaitu
hama, patogen, gulma. Patogen adalah mikro organisme yang dapat menyebabkan
kerusakan pada tanaman berupa penyakit. Penyakit dapat menyebabkan
bagian-bagian tertentu dari tanaman tidak dapat menjalankan fungsinya secara
normal akibat gangguan terus menerus terhadap metabolisme tanaman. Berdasarkan
penyebabnya penyakit dibedakan menjadi dua yaitu penyakit menular dan tidak
menular yang disebkan oleh fungi, bakteri , virus.
Berbagai macam golongan penyakit tersebut dapat membedakan
karakteristik penyakit satu dengan yang lainya. Karakteristik masing-masing
penyakit tergolong antar lain fungi, bakteri dan virus. Karakteristik penyebab
penyakit dapat diketahui dengan gejala penyakit yang menyerang tanaman
tersebut. Dengan mengetahui gejala tersebut kita dapat mengetahui cara terbaik
untuk mengatasi dan mengedalikan penyakit tersebut. Pengamatan serta pengukuran
intensitas penyakit dan penentuan laju infeksi penyakit perlu dilakukan untuk
mengetahui gejala dan keparahan penyakit yang menyerang serta dapat diguakan
sebagai strategi pengendalian.
Pengukuran penyakit dapat dilakukan dengan menentukan
insidensi penyakit dan intensitas penyakit. Pengukuran tingkat penyakit yang
terjadi ini dilakukan guna untuk mengetahui perkembangan penyakit secara
kuantitafif pada kurun waktu tertentu serta untuk mengetahui faktor lingkungan
yang mendukung dalam perkembangan penyakit seperti suhu, kelembapan, dan cuaca
yang terjadi pada ruang dan waktu tertentu. Insidensi penyakit merupakan
perbandingan tanaman yang terkena penyakit dalam suatu populasi tanaman
tertentu tanpa adanya penilaian tingkat keparahan dari serangan penyakit
tersebut. Intensitas penyakit merupakan tingkat keparahan penyakit yang berbeda
pada setiap bagian tanaman. Intensitas penyakit dapat membantu dalam penentuan
tingkat serangan penyakit yang diakibatkan oleh patogen pertanaman dalam suatu
populasi tertentu. Intensitas penyakit ditentukan berdasarkan pada skala
kerusakan pada setiap bagian tanaman yang disebabkan oleh penyakit.
Laju infeksi penyakit merupakan suatu kecepatan bertambahnya
intesitas penyakit pada suatu populasi tanaman dalam kurun waktu da ruang
tertentu. Laju infeksi dapat dinyatakan dalam satuan hari atau tahun. Laju
infeksi dapat menentukan suatu epidemi penyakit. Epidemi merupakan suatu proses
yang dinamik dalam keparahan penyakit yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Epidemi penyakit pada tumbuha dibagi menjadi dua kelompok yaitu tipe monosiklik
dan tipe polisiklik. Tipe monosiklik memiliki ciri-ciri bahwa suatu sumber
inokulum tidak mengalami penambahan, karena tanaman yang terifeksi berasal dari
sumber infeksi yang sudah ada. Tipe polisiklik memiliki ciri bahwa sumber
inokulum mengalami pertambahan dan perkembangan.
1.2
Tujuan
1. Menilai
atau mengukur insidensi dan intensitas suatu penyakit pada tanaman sehingga
dapat menduga kerusakan atau kerugian yang diakibatkan.
2. Menentukan
laju infeksi suatu penyakit tanaman untuk digunakan sebagai dasar melakukan
tindakan pengendalian terhadap penyakit
3. Membandingkan
laju infeksi penyakit dari tipe monosiklik dengan tipe polisiklik
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Produksi jagung, menunjukkan peningkatan peningkatan
dari tahun ke tahun. Pertambahan jumlah penduduk dan program perbaikan gizi
masyarakat melalui deversifikasi pola makanan, mendorong permintaan jagung. Jagung sampai saat ini
masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi, hal ini karena
dibeberapa daerah jagung masih menjadi bahan makanan pokok kedua setelah beras.
Jagung juga mempunyai arti penting dalam
pengambangan industri di
Indonesia karena jangung dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri pangan maupun
industri pakan
ternak. Selain sebagai bahan baku industri
dalam negeri semakin meningkat dengan banyaknya industri makanan ternak,
industri minyak jagung dan produk ethanol, dimana varietas jagung hibrida
mempunyai kelebihan dari jagung komposit yaitu produksinya 25-30% lebih tinggi,
tahan rebah, penyakit dan kekeringan serta
berumur pendek (Paeru dan Dewi, 2007).
Agroekosistem dapat diartikan sebagai
totalitas/kesatuan lingkungan pertanian yang tersusun oleh komponen hidup
(biotik) dan komponen tidak hidup (abiotik) yang saling berinteraksi dan
manusia dengan sistem sosialnya merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan
dengan komponen tersebut. Agroekosistem ini pada saat proses pembentukan dan
perkembangannya terjadi karena ada campur tangan manusia dengan tujuan umtuk
meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan manusia
(Altieri et al., 2017).
Campur tangan manusia dapat berupa
pemebrian masukan energi dan biasanya mempunyai kecenderungan mengubah
keseimbangan alam dan menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil bila tidak
dikelola dengan baik. Berdasarkan proses pembentukannya, ekosistem dibagi
menjadi dua, yaitu Ekosistem Alami dan Ekosistem Pertanian / Agroekosistem (Altieri
and Toledo, 2012). Ekosistem Alami merupakan ekosistem yang proses pembentukan
dan perkembangannya terjadi tanpa ada campur tangan manusia, sedangkan
Agroekosistem merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya
terjadi karena ada campur tangan manusia (Arshad and Shafqat, 2012).
Intensitas serangan penyakit adalah
tingkat serangan atau tingkat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh jamur,
bakteri atau virus yang dinyatakan secara kuantitatif atau kualitatif. Analisis
mengenai tingkat keparahan penyakit tumbuhan serta keberadaan sangan dibutuhkan
dalam mempelajari kehilangan hasil, peramalan tingkat penyakit, dan sistem
pengendalian yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kerugian yang disebabkan
oleh serangan penyakit. Berat atau ringannya penyakit dapat diklasifikasikan
dalam tiga kriterium utama, yaitu insidensi penyakit (diseases insident),
intensitas penyakit (diseases severity), dan kehilangan hasil (crop
loss) (Bande dkk., 2014).
Pendugan
intesitas penyakit tanaman merupakan cara yang umum untuk menentukan besar
penyakit pada suatu populasi. Sedangkan keterjadian penyakit pada tanaman
merupakan banyaknya sampel unit yang terserang dalam persentase/proporsi dari
jumlah sempling unit atau jumlah keseluruhan terjadinya penyakit disebabkan
apabila penyakit ini bersifat sistemik serta serangan patogen cepat atau lambat
yang akan menyebabkan kematian. Keparahan penyakit tumbuhan adalah daerah sub
sempling unit yang terinfeksi penyakit ditulis dalam bentuk persen atau proporsi
total daerah sempling (Auliya dkk.,
2014).
Penyakit tanaman dapat didefinisikan
sebagai penyimpangan sifat normal yang menyebabkan tanaman tidak dapat
melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya. Penyakit tumbuhan dapat
disebabkan oleh faktor biotik dan abiotik. Penyebab penyakit yang bersifat
biotik umunya parasitik pada tumbuahn, dapat ditularkan, dan disebut penyakit
biogenik. Adapun penyakit yang bersifat abiotik tidak parasit, tidak menular,
dan biasa disebut penyakit fisiogenik. Penyebab yang parasitik terdiri dari
beberapa golongan seperti virus, viroid, fitoplasma bakteri, cendawan,
riketsia, protozoa, nematode dan tumbuhan tingkat tinggi (Santoso dan Sumarmi,
2013).
BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1
Waktu dan Tempat
Praktikum
Peramalan Hama dan Epidemologi Penyakit acara “Pengukuran Insidensi dan Intensitas Penyakit” dilakukan di
lahan jagung Antirogo
Jember pada hari Selasa tanggal
24 Oktober 2017 jam 13.00-15.00 WIB.
3.2
Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. ATK
3.2.2 Bahan
1. Lahan tanaman jagung
3.3
Pelaksanaan Praktikum
1. Melakukan
pengambilan contoh (sampel)
tanaman pada petak
tanaman dengan luas dan jumlah tertentu.
2. Melakukan
pengambilan contoh tanaman
pada petak terseleksi
secara acak menggunakan pola
diagonal.
3. Melakukan
penilaian intensitas penyakit
sesuai dengan jenis
penyakit dan tipe gejala
serta kerusakan yang ditimbulkan
menggunakan cara perhitungan
atau pengukuran yang tepat.
3.4
Variabel Pengamatan
1. Data kerusakan tanaman
3.5
Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam praktikum ini
adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data kerusakan pada
tanaman.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Tabel 2. Data Pengamatan Minggu ke Dua
4.2 Pembahasan
Berdasarkan praktikum acara
interaksi patogen lingkungan abiotik dalam agroekosistem diperoleh hasil berupa
data kejadian penyakit atau insidensi penyakit (Diseases incidence), keparahan penyakit atau intensitas penyakit (Diseases severity) dan laju infeksi penyakit pada tanaman jagung yang
terserang penyakit karat daun (Puccinia
polysora). Insidensi penyakit atau kejadian penyakit (KP) merupakan
proporsi atau persentase tanaman atau jumlah bagian tanaman yang sakit atau
terinfeksi penyakit dalam suatu populasi tanaman tertentu, tanpa
memperhitungkan berat atau ringannya tingkat serangan atau keparahan penyakit.
KP dapat diukur dengan membandingkan jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan yang
sakit terhadap jumlah seluruh seluruh tanaman yang diamati (Nurhayati, 2011),
sehingga perhitungan yang dilakukan adalah mengakumulasikan keselurahan atau
jumlah tanaman yang sakit dibagi dengan jumlah semua tanaman yang di amati dan
dikalikan 100%. Sedangkan keparahan penyakit atau intensitas penyakit merupakan
gambaran secara kuantitatif dari tingkat keparahan penyakit yang berbeda pada
bagian tanaman dengan menggunakan skoring. Pengamatan Intensitas penyakit,
kejadian penyakit atau insidensi penyakit dan laju infeksi dilakukan pada
tanaman jagung yang sudah memasuki fase generatif dengan interval waktu
pengambilan data satu kali dalam seminggu sebanyak 2 kali pengamatan.
Pengamatan dilakukan dengan metode diagonal sampling, dimana setiap petak
pengamatan terdiri dari 10 tanaman.
Sebaran penyakit karat daun P.polysora sangat perlu diperhatikan
oleh karena keberadaan penyakit sewaktu-waktu menjadi ancaman pertanaman jagung.
Hal ini dikarenakan penyakit karat merupakan penyakit endemis yang mana
perkembangan penyakit tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan
terutama suhu dan kelembaban. Kelembaban udara yang optimal adalah > 90%
(Talanca dan Tenrirawe, 2015). Oleh karena itu, perlu adanya suatu metode atau
teknik yang dapat menggambarkan keparahan dan kejadian penyakit serta laju
infeksi penyakit pada pertanaman sehingga dapat meminimalisir tingkat kerugian
ekonomi. Metode yang dapat digunakan adalah peramalan epidemi penyakit dimana
peramalan epidemi penyakit digunakan untuk memprakirakan kejadian penyakit,
intensitas dan laju infeksi penyakit yang sama pada waktu yang akan datang.
Berdasarkan pengamatan dan
perhitungan dari pengamatan diperoleh hasil nilai kejadian penyakit atau
Insidensi penyakit yaitu sebesar 100%, yang mana hal tersebut menunjukkan pada
petak pengamatan tersebut masuk dalam ketegori serangan berat karena setiap
tanaman dalam populasi tersebut semuanya terinfeksi penyakit karat daun (Puccinia polysora). Sedangkan untuk
nilai keparahan penyakit atau Intensitas penyakit (IP) yang dilakukan
pengamatan dengan skoring dan perhitungan untuk setiap tanaman dalam satu petak
diperoleh hasil seperti pada Tabel 1. di atas yaitu: IP tanaman 1 = 39%, IP
tanaman 2 = 7%, IP tanaman 3 = 25,39%, IP tanaman 4 = 12,2 %, IP tanaman 5 =
3%, Ip tanaman 6 = 6,17%, IP tanaman 7 = 19,44 %, IP tanaman 9 = 4,44 %, dan IP
tanaman 10 = 11,11%. Berdasarkan data tersebut nilai keparahan penyakit
tertinggi pada pengamatan minggu pertama yaitu pada tanaman 1 dengan nilai 39%
dan terendah terdapat pada tanaman 5 sebesar 3 %, sedangkan rata-rata keparahan
penyakit dalam satu petak pengamatan yang terdiri dari 10 tanaman yaitu 12,77%.
Menurut Irawan dkk. (2013), tingginya sumber inokulum, daerah yang cocok, dan
serangan penyakit di lapang serta didukung dengan kondisi lingkungan yang
sesuai dengan perkembangan P.polysora
menjadi kemungkinan peningkatan penyebaran penyakit karat daun, sehingga
infeksi alami di lapangan terjadi secara optimal. Tujuan dari pengamatan
kejadian penyakit, keparahan penyakit serta laju infeksi digunakan sebagai
dasar dalam melakukan tindakan teknik pengendalian terhadap penyakit, dan upaya
pengendalian dini untuk mencegah, atau meminimalisir terjadinya serangan
penyakit di areal pertanaman.
Upaya pengendalian dini yang
dapat dilakukan salah satunya dengan kultur teknis yaitu dengan menggunakan
varietas tahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa, menanam varietas tahan
merupakan satu-satunya cara pengendalian penyakit karat daun pada tanaman
jagung. Selain itu teknik pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan
melakukan pengaturan jarak tanam. Penggunaan jarak tanam yang rapat dapat
menyebabkan tingginya kelembaban disekitar tanaman sehingga peluang munculnya
penyakit karat daun lebih tinggi pula. Menurut Pakki (1998) dalam Aditya dkk.
(2013) bahwa, intensitas serangan penyakit karat lebih tinggi di daerah yang
memiliki kondisi kelembaban udaranya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah
dengan kondisi kelembaban udara yang rendah. Apabila serangan P.polysora tinggi menyababkan semakin
sulitnya teknik pengndalian yang dilakukan. Hal ini dikarenakan patogen
penyebab karat daun merupakan patogen tular tanah yang sangat sulit
dikendalikan dengan beberapa teknik pengendalian, sehingga membutuhkan teknik
pengendalian yang tepat.
Cendawan Puccinia polysora penyebab penyakit karat daun menyerang tanaman
jagung pada fase pertumbuhan generatif hingga masa panen terutama pada bagian
daun tanaman, sedangkan apabila tingkat serangan masuk ke kategori berat maka
serangan dapat mencapai seludang daun dan tongkol jagung (Irawan dkk., 2013).
Infeksi penyakit karat daun sering tidak ditemukan pada pertanaman yang masih
muda. Hal ini kemungkinan disebabkan cendawan P.polysora bersifat saprofit yaitu tidak dapat tumbuh pada sisa
tanaman (Pakki dan Burhanuddi, 2013). Beberapa faktor yang mempengaruhi
perkembangan penyakit yaitu: kondisi lingkungan yang panas dan lembab sangat
sesui untuk pertumbuhan dan perkembangan Puccinia
polysora, uredospora dari P.polysora
mampu berkecambah pada suhu optimum yaitu 23ºC-28ºC.
Cendawan P.polysora penyebab karat daun merupakan salah satu patogen yang
sangat sensitif terhadap suhu lingkungan, sehingga perkembangan dan
penyebarannya dipengaruhi oleh kondisi suhu lingkungan. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Pakki (2016) bahwa, kompleksitas gejala karat daun dipengaruhi oleh
tingkat ketahanan varietas, umur tanaman saat terjadi infeksi dan spesies yang
menginfeksi. Tanaman jagung yang terinfeksi karat akan menunjukkan gejala yang
komplek, yaitu mengeringnya sebagian daun yang diikuti oleh infeksi pada bagian
batang dan menyebabkan matinya sebagian tanaman.
Berdasarkan hasil pengamatan
yang dilakukan pada minggu ke dua pada areal pertanaman dan tanaman yang sama
diperoleh data intensitas penyakit berkisar dari 5% sampai 50%, dengan
masing-masing skor setiap daunnya diperoleh kriteria serangan rendah, sedang
sampai berat. Menurut Puspawati dan
Sudarma (2016), Penyakit karat daun menyerang daun sebelah bawah sampai daun ke
atas. Penyebaran infeksi Puccinia
polysora disebabkan oleh Uredospora yang disebarkan oleh angin dan percikan
air hujan ke bagian tanaman jagung sehat dan pada kondisi yang menguntungkan,
karat daun Puccinia polysora dapat
menyebar secara cepat dengan terjadinya infeksi baru dalam tujuh hari. Oleh
karena itu pengamatan yang dilakukan dengan interval waktu 7 hari. Intensitas
penyakit tertinggi terjadi pada tanaman 1 sebesar 50% dengan peningkatan yang
terjadi selama kkurun waktu satu minggu yaitu 11% dari pengamatan minggu ke-2,
dan intensitas ppenyakit terendah terdapat pada tanaman 5 yaitu sebesar 5%
dengan peningkatan serangan yang terjadi selama satu minggu sebesar 2% dari
minggu pertama pengamatan.
Berdasarkan penagmatan
penyakit karat daun Puccinia polysora minggu
ke dua diperoleh nilai dari laju infeksi. Laju infeksi diperoleh atas dasar
proporsi tanaman sakit (persentase penyakit), yang dihitung setiap minggu
sesuai dengan perkembangan penyakit.
Laju infeksi (r) yang diperoleh yaitu 0,05 unit/hari, yang artinya
setiap hari tanaman yang terkena infeksi akan bertambah 5 tanaman untuk setiap
10 tanaman. Berdasarkan nilai laju infeksi (r) tersebut dapat disimpulkan bahwa
tingkat penyebaran atau infeksi penyakit dari tanaman satu ke tanaman yang lain
dikategorikan tinggi yang menunjukkan bahwa patogen di lapangan sangat virulen
sehingga memiliki daya yang besar untuk menginfeksi tanaman dan menyebabkan
tanaman sakit atau bisa juga disebabkan karena tanaman inang (jagung) yang
sangat rentan terhadap serangan P.polysora
atau lingkungan yang sangat mendukung bagi perkembangan dan penyebaran patogen.
Berdasarkan nilai laju infeksi tersebut menunjukkan bahwa penyakit karat daun
tingkat serangannya masuk dalam kategori berat sehingga berpengaruh pada
penurunan hasil produksi jagung. Hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan
yang sangat sesuai tertama kelembaban udara yang tinggi.
BAB 5.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa dalam acara interaksi patogen lingkungan abiotik dalam
agroekositem siperoleh data Kejadian penyakit (KP), intensitas serangan (IP),
dan laju infeksi penyakit karat daun Puccinia
polysora.
2. Nilai KP
pada pengamatan minggu pertama sebesar 100%, sedangkan untuk Intensitas enyakit
dengan nilai tertinggi terdapat pada tanaman ke-1 yaitu sebesar 39%, dan IP
terendah terdapat pada tanaman ke-5 yaitu sebesar 3%.
3. Faktor
yang paling mendukung perkembangan dan penyebaran penyakit karat daun Puccinia polysora adalah lingkungan
terutama suhu dan kelembaban udara yang tinggi.
4. Laju
infeksi penyakit (r) pada tanaman jagung yang terserang penyakit karat yaitu
0,05 unit/hari, yang artinya setiap hari tanaman yang terkena infeksi akan
bertambah 5 tanaman untuk setiap 10 tanaman.
5.2 Saran
Saran ditujukan kepada tim
asisten, agar lebih tegas lagi dalam acara praktikum, sehingga praktikum dapat
berjalan lebih kondusif, memperjelas lagi mengenai segala informasi yang
berhubungan dengan acara praktikum karena masih banyak praktikan yang
kebingungan terkait jalannya praktikum serta saran juga ditujukan kepada
praktikan, agar lebih serius lagi saat berjalannya acara praktikum. Dengan
memperbaiki hal-hal tersebut diharapkan acara praktikum dapat berjalan lebih
baik lagi dan sesuai dengan yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Aditya,
S., Hasanudin, M. I. Pinem. 2013. Uji Ketahanan beberapa Varietas dan Pengaruh
Jarak Tanam terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia
polysora) pada Tanaman Jagung (Zea
mays L.) di Dataran Rendah. Agroekoteknologi,
1(4): 1462-1472.
Altieri,
M. A., and V. M. Toledo. 2012. The agroecological revolution in Lati America:
rescuing nature, ensuring food sovereignty and empowerin peasants. Peasant Studies, 38(3): 58-612.
Altieri,
M. A., C. I. Nicholls, and R. Montalba. 2017. Technological Approaches to
Sustainable Agricultureat a Crossroads: An Agroecological Perspective. Sustainability, 1(1): 1-13.
Arshad,
S., and S. Shafqat. 2012. Food Security Indicators, Distribution and Techniques
for Agriculture Sustainability in Pakistan. Applied
Science and Technology, 2(5): 137-147.
Auliya,
A., Damanhuri, dan Kuswanto. 2014. Keragaman genetik dan pendugaan jumlah gen
ketahanan kacang panjang (vigna sinensis
l.) Terhadap penyakit kuning. Agroteknologi,
1(1): 561-565.
Bande,
L. O. S., B. Hadisutrisno, S. Somowiyarjo, dan B. H. Sunarminto. 2014. Pola
Agihan Dan Intensitas Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada Di Provinsi Sulawesi
Tenggara. Agroteknos, 4(1): 58-65.
Irawan,
D., Hasanuddin, dan L. Lubis. 2013. Uji Ketahanan beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) terhadap Penyakit Karat
Daun (Puccinia polysora Underw.) di
Dataran Rendah. Agroekoteknologi, 1(3):
759-767.
Nurhayati.
2011. Epidemiologi Penyakit Tumbuhan. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Paeru,
R. H., dan T. Q. Dewi. 2007. Panduan
Praktis Budidaya Jagung. Yogyakarta: Penebar Swadaya.
Pakki,
S. 2016. Bionomi Penyakit Karat (Puccinia
polysora) pada Jagung dan Pengendaliannya dengan Varietas Tahan dan
Fungisida. Litbang pertanian.go.id
(diakses pada tanggal 31 Oktober 2017).
Pakki,
S., dan Burhanuddin. 2013. Peranan Varietas dan Fungisida dalam Dinamika
Penularan Patogen Obligat Parasit dan Saprofit pada Tanaman Jagung. Balitsereal.litbang.pertanian.go.id
(diakses pada tanggal 01 November 2017).
Puspawati,
N. M., dan I. M. Sudarma. 2016. Epidemiologi Penyakit Karat pada Tanaman Jagung
(Zea mays L.) di Denpasar Selatan. Agrotrop, 6(2): 117-127.
Santoso,
S. J., dan Sumarmi. 2013. Pengendalian Hayati Patogen Karat Daun dan Antraknosa
Pada Tanaman Kedelai (Glicyne max, Merr)
Dengan Mikrobia Filoplen. Innofarm,
11(1): 35-43.
Talanca,
A. H., dan A. Tenrirawe. 2015. Respon beberapa Varietas terhadap Penyakit Utama
Jagung di Kabupaten Kediri Jawa Timur. Agrotan,
1(1): 67-78.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar