Minggu, 11 November 2018



LAPORAN PRAKTIKUM
PENGUKURAN INSIDENSI DAN INTENSITAS PENYAKIT SERTA PENGUKURAN LAJU INFEKSI PENYAKIT
Oleh
Golongan A/Kelompok 1A
1.      Rela Karunia Putri                  (141510501126)
2.      Dewi Anita                             (151510501073)
3.      Muhammad Iqbal Sholeh        (151510501090)




LABORATORIUM HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah semua organisme yang dapat menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya. OPT dibagi menjadi tiga yaitu hama, patogen, gulma. Patogen adalah mikro organisme yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman berupa penyakit. Penyakit dapat menyebabkan bagian-bagian tertentu dari tanaman tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal akibat gangguan terus menerus terhadap metabolisme tanaman. Berdasarkan penyebabnya penyakit dibedakan menjadi dua yaitu penyakit menular dan tidak menular yang disebkan oleh fungi, bakteri , virus.
Berbagai macam golongan penyakit tersebut dapat membedakan karakteristik penyakit satu dengan yang lainya. Karakteristik masing-masing penyakit tergolong antar lain fungi, bakteri dan virus. Karakteristik penyebab penyakit dapat diketahui dengan gejala penyakit yang menyerang tanaman tersebut. Dengan mengetahui gejala tersebut kita dapat mengetahui cara terbaik untuk mengatasi dan mengedalikan penyakit tersebut. Pengamatan serta pengukuran intensitas penyakit dan penentuan laju infeksi penyakit perlu dilakukan untuk mengetahui gejala dan keparahan penyakit yang menyerang serta dapat diguakan sebagai strategi pengendalian.
Pengukuran penyakit dapat dilakukan dengan menentukan insidensi penyakit dan intensitas penyakit. Pengukuran tingkat penyakit yang terjadi ini dilakukan guna untuk mengetahui perkembangan penyakit secara kuantitafif pada kurun waktu tertentu serta untuk mengetahui faktor lingkungan yang mendukung dalam perkembangan penyakit seperti suhu, kelembapan, dan cuaca yang terjadi pada ruang dan waktu tertentu. Insidensi penyakit merupakan perbandingan tanaman yang terkena penyakit dalam suatu populasi tanaman tertentu tanpa adanya penilaian tingkat keparahan dari serangan penyakit tersebut. Intensitas penyakit merupakan tingkat keparahan penyakit yang berbeda pada setiap bagian tanaman. Intensitas penyakit dapat membantu dalam penentuan tingkat serangan penyakit yang diakibatkan oleh patogen pertanaman dalam suatu populasi tertentu. Intensitas penyakit ditentukan berdasarkan pada skala kerusakan pada setiap bagian tanaman yang disebabkan oleh penyakit.
Laju infeksi penyakit merupakan suatu kecepatan bertambahnya intesitas penyakit pada suatu populasi tanaman dalam kurun waktu da ruang tertentu. Laju infeksi dapat dinyatakan dalam satuan hari atau tahun. Laju infeksi dapat menentukan suatu epidemi penyakit. Epidemi merupakan suatu proses yang dinamik dalam keparahan penyakit yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Epidemi penyakit pada tumbuha dibagi menjadi dua kelompok yaitu tipe monosiklik dan tipe polisiklik. Tipe monosiklik memiliki ciri-ciri bahwa suatu sumber inokulum tidak mengalami penambahan, karena tanaman yang terifeksi berasal dari sumber infeksi yang sudah ada. Tipe polisiklik memiliki ciri bahwa sumber inokulum mengalami pertambahan dan perkembangan.

1.2  Tujuan
1.    Menilai atau mengukur insidensi dan intensitas suatu penyakit pada tanaman sehingga dapat menduga kerusakan atau kerugian yang diakibatkan.
2.    Menentukan laju infeksi suatu penyakit tanaman untuk digunakan sebagai dasar melakukan tindakan pengendalian terhadap penyakit
3.    Membandingkan laju infeksi penyakit dari tipe monosiklik dengan tipe polisiklik







BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Produksi jagung, menunjukkan peningkatan peningkatan dari tahun ke tahun. Pertambahan jumlah penduduk dan program perbaikan gizi masyarakat melalui deversifikasi pola makanan, mendorong permintaan jagung. Jagung sampai saat ini masih merupakan komoditi strategis kedua setelah padi, hal ini karena dibeberapa daerah jagung masih menjadi bahan makanan pokok kedua setelah beras. Jagung juga mempunyai arti penting dalam pengambangan industri di Indonesia karena jangung dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri pangan maupun industri pakan ternak. Selain sebagai bahan baku industri dalam negeri semakin meningkat dengan banyaknya industri makanan ternak, industri minyak jagung dan produk ethanol, dimana varietas jagung hibrida mempunyai kelebihan dari jagung komposit yaitu produksinya 25-30% lebih tinggi, tahan rebah, penyakit dan kekeringan serta berumur pendek (Paeru dan Dewi, 2007).
Agroekosistem dapat diartikan sebagai totalitas/kesatuan lingkungan pertanian yang tersusun oleh komponen hidup (biotik) dan komponen tidak hidup (abiotik) yang saling berinteraksi  dan manusia dengan sistem sosialnya merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan komponen tersebut. Agroekosistem ini pada saat proses pembentukan dan perkembangannya terjadi karena ada campur tangan manusia dengan tujuan umtuk meningkatkan produksi pertanian dalam rangka memenuhi tuntutan kebutuhan manusia (Altieri et al., 2017).
Campur tangan manusia dapat berupa pemebrian masukan energi dan biasanya mempunyai kecenderungan mengubah keseimbangan alam dan menyebabkan ekosistem menjadi tidak stabil bila tidak dikelola dengan baik. Berdasarkan proses pembentukannya, ekosistem dibagi menjadi dua, yaitu Ekosistem Alami dan Ekosistem Pertanian / Agroekosistem (Altieri and Toledo, 2012). Ekosistem Alami merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi tanpa ada campur tangan manusia, sedangkan Agroekosistem merupakan ekosistem yang proses pembentukan dan perkembangannya terjadi karena ada campur tangan manusia (Arshad and Shafqat, 2012).
Intensitas serangan penyakit adalah tingkat serangan atau tingkat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh jamur, bakteri atau virus yang dinyatakan secara kuantitatif atau kualitatif. Analisis mengenai tingkat keparahan penyakit tumbuhan serta keberadaan sangan dibutuhkan dalam mempelajari kehilangan hasil, peramalan tingkat penyakit, dan sistem pengendalian yang harus dilakukan untuk meminimalisasi kerugian yang disebabkan oleh serangan penyakit. Berat atau ringannya penyakit dapat diklasifikasikan dalam tiga kriterium utama, yaitu insidensi penyakit (diseases insident), intensitas penyakit (diseases severity), dan kehilangan hasil (crop  loss) (Bande dkk., 2014).
Pendugan intesitas penyakit tanaman merupakan cara yang umum untuk menentukan besar penyakit pada suatu populasi. Sedangkan keterjadian penyakit pada tanaman merupakan banyaknya sampel unit yang terserang dalam persentase/proporsi dari jumlah sempling unit atau jumlah keseluruhan terjadinya penyakit disebabkan apabila penyakit ini bersifat sistemik serta serangan patogen cepat atau lambat yang akan menyebabkan kematian. Keparahan penyakit tumbuhan adalah daerah sub sempling unit yang terinfeksi penyakit ditulis dalam bentuk persen atau proporsi total daerah sempling (Auliya dkk., 2014).
Penyakit tanaman dapat didefinisikan sebagai penyimpangan sifat normal yang menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya. Penyakit tumbuhan dapat disebabkan oleh faktor biotik dan abiotik. Penyebab penyakit yang bersifat biotik umunya parasitik pada tumbuahn, dapat ditularkan, dan disebut penyakit biogenik. Adapun penyakit yang bersifat abiotik tidak parasit, tidak menular, dan biasa disebut penyakit fisiogenik. Penyebab yang parasitik terdiri dari beberapa golongan seperti virus, viroid, fitoplasma bakteri, cendawan, riketsia, protozoa, nematode dan tumbuhan tingkat tinggi (Santoso dan Sumarmi, 2013).





BAB 3. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum  Peramalan Hama  dan  Epidemologi Penyakit  acara “Pengukuran Insidensi  dan Intensitas  Penyakit” dilakukan  di  lahan  jagung  Antirogo  Jember  pada hari Selasa tanggal 24 Oktober 2017 jam 13.00-15.00 WIB. 
3.2 Alat dan Bahan 
3.2.1 Alat 
1. ATK
 3.2.2 Bahan  
1. Lahan tanaman jagung

3.3 Pelaksanaan Praktikum 
1.  Melakukan  pengambilan  contoh  (sampel)  tanaman  pada  petak  tanaman   dengan luas dan jumlah tertentu.
2.  Melakukan  pengambilan  contoh  tanaman  pada  petak  terseleksi  secara  acak menggunakan pola diagonal.
3.  Melakukan  penilaian  intensitas  penyakit  sesuai  dengan  jenis  penyakit  dan  tipe gejala  serta  kerusakan yang  ditimbulkan  menggunakan  cara  perhitungan  atau pengukuran yang tepat.

3.4 Variabel Pengamatan 
1. Data kerusakan tanaman

3.5 Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam praktikum ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data kerusakan pada tanaman.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil
Tabel 1. Data Pengamatan Minggu Pertama








Tabel 2. Data Pengamatan Minggu ke Dua
 








4.2  Pembahasan
Berdasarkan praktikum acara interaksi patogen lingkungan abiotik dalam agroekosistem diperoleh hasil berupa data kejadian penyakit atau insidensi penyakit (Diseases incidence), keparahan penyakit atau intensitas penyakit (Diseases severity) dan laju infeksi penyakit pada tanaman jagung yang terserang penyakit karat daun (Puccinia polysora). Insidensi penyakit atau kejadian penyakit (KP) merupakan proporsi atau persentase tanaman atau jumlah bagian tanaman yang sakit atau terinfeksi penyakit dalam suatu populasi tanaman tertentu, tanpa memperhitungkan berat atau ringannya tingkat serangan atau keparahan penyakit. KP dapat diukur dengan membandingkan jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan yang sakit terhadap jumlah seluruh seluruh tanaman yang diamati (Nurhayati, 2011), sehingga perhitungan yang dilakukan adalah mengakumulasikan keselurahan atau jumlah tanaman yang sakit dibagi dengan jumlah semua tanaman yang di amati dan dikalikan 100%. Sedangkan keparahan penyakit atau intensitas penyakit merupakan gambaran secara kuantitatif dari tingkat keparahan penyakit yang berbeda pada bagian tanaman dengan menggunakan skoring. Pengamatan Intensitas penyakit, kejadian penyakit atau insidensi penyakit dan laju infeksi dilakukan pada tanaman jagung yang sudah memasuki fase generatif dengan interval waktu pengambilan data satu kali dalam seminggu sebanyak 2 kali pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan metode diagonal sampling, dimana setiap petak pengamatan terdiri dari 10 tanaman.
Sebaran penyakit karat daun P.polysora sangat perlu diperhatikan oleh karena keberadaan penyakit sewaktu-waktu menjadi ancaman pertanaman jagung. Hal ini dikarenakan penyakit karat merupakan penyakit endemis yang mana perkembangan penyakit tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terutama suhu dan kelembaban. Kelembaban udara yang optimal adalah > 90% (Talanca dan Tenrirawe, 2015). Oleh karena itu, perlu adanya suatu metode atau teknik yang dapat menggambarkan keparahan dan kejadian penyakit serta laju infeksi penyakit pada pertanaman sehingga dapat meminimalisir tingkat kerugian ekonomi. Metode yang dapat digunakan adalah peramalan epidemi penyakit dimana peramalan epidemi penyakit digunakan untuk memprakirakan kejadian penyakit, intensitas dan laju infeksi penyakit yang sama pada waktu yang akan datang.
Berdasarkan pengamatan dan perhitungan dari pengamatan diperoleh hasil nilai kejadian penyakit atau Insidensi penyakit yaitu sebesar 100%, yang mana hal tersebut menunjukkan pada petak pengamatan tersebut masuk dalam ketegori serangan berat karena setiap tanaman dalam populasi tersebut semuanya terinfeksi penyakit karat daun (Puccinia polysora). Sedangkan untuk nilai keparahan penyakit atau Intensitas penyakit (IP) yang dilakukan pengamatan dengan skoring dan perhitungan untuk setiap tanaman dalam satu petak diperoleh hasil seperti pada Tabel 1. di atas yaitu: IP tanaman 1 = 39%, IP tanaman 2 = 7%, IP tanaman 3 = 25,39%, IP tanaman 4 = 12,2 %, IP tanaman 5 = 3%, Ip tanaman 6 = 6,17%, IP tanaman 7 = 19,44 %, IP tanaman 9 = 4,44 %, dan IP tanaman 10 = 11,11%. Berdasarkan data tersebut nilai keparahan penyakit tertinggi pada pengamatan minggu pertama yaitu pada tanaman 1 dengan nilai 39% dan terendah terdapat pada tanaman 5 sebesar 3 %, sedangkan rata-rata keparahan penyakit dalam satu petak pengamatan yang terdiri dari 10 tanaman yaitu 12,77%. Menurut Irawan dkk. (2013), tingginya sumber inokulum, daerah yang cocok, dan serangan penyakit di lapang serta didukung dengan kondisi lingkungan yang sesuai dengan perkembangan P.polysora menjadi kemungkinan peningkatan penyebaran penyakit karat daun, sehingga infeksi alami di lapangan terjadi secara optimal. Tujuan dari pengamatan kejadian penyakit, keparahan penyakit serta laju infeksi digunakan sebagai dasar dalam melakukan tindakan teknik pengendalian terhadap penyakit, dan upaya pengendalian dini untuk mencegah, atau meminimalisir terjadinya serangan penyakit di areal pertanaman.
Upaya pengendalian dini yang dapat dilakukan salah satunya dengan kultur teknis yaitu dengan menggunakan varietas tahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa, menanam varietas tahan merupakan satu-satunya cara pengendalian penyakit karat daun pada tanaman jagung. Selain itu teknik pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan pengaturan jarak tanam. Penggunaan jarak tanam yang rapat dapat menyebabkan tingginya kelembaban disekitar tanaman sehingga peluang munculnya penyakit karat daun lebih tinggi pula. Menurut Pakki (1998) dalam Aditya dkk. (2013) bahwa, intensitas serangan penyakit karat lebih tinggi di daerah yang memiliki kondisi kelembaban udaranya lebih tinggi dibandingkan dengan daerah dengan kondisi kelembaban udara yang rendah. Apabila serangan P.polysora tinggi menyababkan semakin sulitnya teknik pengndalian yang dilakukan. Hal ini dikarenakan patogen penyebab karat daun merupakan patogen tular tanah yang sangat sulit dikendalikan dengan beberapa teknik pengendalian, sehingga membutuhkan teknik pengendalian yang tepat.
Cendawan Puccinia polysora penyebab penyakit karat daun menyerang tanaman jagung pada fase pertumbuhan generatif hingga masa panen terutama pada bagian daun tanaman, sedangkan apabila tingkat serangan masuk ke kategori berat maka serangan dapat mencapai seludang daun dan tongkol jagung (Irawan dkk., 2013). Infeksi penyakit karat daun sering tidak ditemukan pada pertanaman yang masih muda. Hal ini kemungkinan disebabkan cendawan P.polysora bersifat saprofit yaitu tidak dapat tumbuh pada sisa tanaman (Pakki dan Burhanuddi, 2013). Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit yaitu: kondisi lingkungan yang panas dan lembab sangat sesui untuk pertumbuhan dan perkembangan Puccinia polysora, uredospora dari P.polysora mampu berkecambah pada suhu optimum yaitu 23ºC-28ºC.
Cendawan P.polysora penyebab karat daun merupakan salah satu patogen yang sangat sensitif terhadap suhu lingkungan, sehingga perkembangan dan penyebarannya dipengaruhi oleh kondisi suhu lingkungan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pakki (2016) bahwa, kompleksitas gejala karat daun dipengaruhi oleh tingkat ketahanan varietas, umur tanaman saat terjadi infeksi dan spesies yang menginfeksi. Tanaman jagung yang terinfeksi karat akan menunjukkan gejala yang komplek, yaitu mengeringnya sebagian daun yang diikuti oleh infeksi pada bagian batang dan menyebabkan matinya sebagian tanaman.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada minggu ke dua pada areal pertanaman dan tanaman yang sama diperoleh data intensitas penyakit berkisar dari 5% sampai 50%, dengan masing-masing skor setiap daunnya diperoleh kriteria serangan rendah, sedang sampai berat.  Menurut Puspawati dan Sudarma (2016), Penyakit karat daun menyerang daun sebelah bawah sampai daun ke atas. Penyebaran infeksi Puccinia polysora disebabkan oleh Uredospora yang disebarkan oleh angin dan percikan air hujan ke bagian tanaman jagung sehat dan pada kondisi yang menguntungkan, karat daun Puccinia polysora dapat menyebar secara cepat dengan terjadinya infeksi baru dalam tujuh hari. Oleh karena itu pengamatan yang dilakukan dengan interval waktu 7 hari. Intensitas penyakit tertinggi terjadi pada tanaman 1 sebesar 50% dengan peningkatan yang terjadi selama kkurun waktu satu minggu yaitu 11% dari pengamatan minggu ke-2, dan intensitas ppenyakit terendah terdapat pada tanaman 5 yaitu sebesar 5% dengan peningkatan serangan yang terjadi selama satu minggu sebesar 2% dari minggu pertama pengamatan.
Berdasarkan penagmatan penyakit karat daun Puccinia polysora minggu ke dua diperoleh nilai dari laju infeksi. Laju infeksi diperoleh atas dasar proporsi tanaman sakit (persentase penyakit), yang dihitung setiap minggu sesuai dengan perkembangan penyakit.  Laju infeksi (r) yang diperoleh yaitu 0,05 unit/hari, yang artinya setiap hari tanaman yang terkena infeksi akan bertambah 5 tanaman untuk setiap 10 tanaman. Berdasarkan nilai laju infeksi (r) tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat penyebaran atau infeksi penyakit dari tanaman satu ke tanaman yang lain dikategorikan tinggi yang menunjukkan bahwa patogen di lapangan sangat virulen sehingga memiliki daya yang besar untuk menginfeksi tanaman dan menyebabkan tanaman sakit atau bisa juga disebabkan karena tanaman inang (jagung) yang sangat rentan terhadap serangan P.polysora atau lingkungan yang sangat mendukung bagi perkembangan dan penyebaran patogen. Berdasarkan nilai laju infeksi tersebut menunjukkan bahwa penyakit karat daun tingkat serangannya masuk dalam kategori berat sehingga berpengaruh pada penurunan hasil produksi jagung. Hal ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang sangat sesuai tertama kelembaban udara yang tinggi.








BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
1.       Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam acara interaksi patogen lingkungan abiotik dalam agroekositem siperoleh data Kejadian penyakit (KP), intensitas serangan (IP), dan laju infeksi penyakit karat daun Puccinia polysora.
2.      Nilai KP pada pengamatan minggu pertama sebesar 100%, sedangkan untuk Intensitas enyakit dengan nilai tertinggi terdapat pada tanaman ke-1 yaitu sebesar 39%, dan IP terendah terdapat pada tanaman ke-5 yaitu sebesar 3%.
3.      Faktor yang paling mendukung perkembangan dan penyebaran penyakit karat daun Puccinia polysora adalah lingkungan terutama suhu dan kelembaban udara yang tinggi.
4.      Laju infeksi penyakit (r) pada tanaman jagung yang terserang penyakit karat yaitu 0,05 unit/hari, yang artinya setiap hari tanaman yang terkena infeksi akan bertambah 5 tanaman untuk setiap 10 tanaman.

5.2  Saran
Saran ditujukan kepada tim asisten, agar lebih tegas lagi dalam acara praktikum, sehingga praktikum dapat berjalan lebih kondusif, memperjelas lagi mengenai segala informasi yang berhubungan dengan acara praktikum karena masih banyak praktikan yang kebingungan terkait jalannya praktikum serta saran juga ditujukan kepada praktikan, agar lebih serius lagi saat berjalannya acara praktikum. Dengan memperbaiki hal-hal tersebut diharapkan acara praktikum dapat berjalan lebih baik lagi dan sesuai dengan yang diinginkan.




DAFTAR PUSTAKA
Aditya, S., Hasanudin, M. I. Pinem. 2013. Uji Ketahanan beberapa Varietas dan Pengaruh Jarak Tanam terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia polysora) pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Dataran Rendah. Agroekoteknologi, 1(4): 1462-1472.
Altieri, M. A., and V. M. Toledo. 2012. The agroecological revolution in Lati America: rescuing nature, ensuring food sovereignty and empowerin peasants. Peasant Studies, 38(3): 58-612.
Altieri, M. A., C. I. Nicholls, and R. Montalba. 2017. Technological Approaches to Sustainable Agricultureat a Crossroads: An Agroecological Perspective. Sustainability, 1(1): 1-13.
Arshad, S., and S. Shafqat. 2012. Food Security Indicators, Distribution and Techniques for Agriculture Sustainability in Pakistan. Applied Science and Technology, 2(5): 137-147.
Auliya, A., Damanhuri, dan Kuswanto. 2014. Keragaman genetik dan pendugaan jumlah gen ketahanan kacang panjang (vigna sinensis l.) Terhadap penyakit kuning. Agroteknologi, 1(1): 561-565.
Bande, L. O. S., B. Hadisutrisno, S. Somowiyarjo, dan B. H. Sunarminto. 2014. Pola Agihan Dan Intensitas Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada Di Provinsi Sulawesi Tenggara. Agroteknos, 4(1): 58-65.
Irawan, D., Hasanuddin, dan L. Lubis. 2013. Uji Ketahanan beberapa Varietas Jagung (Zea mays L.) terhadap Penyakit Karat Daun (Puccinia polysora Underw.) di Dataran Rendah. Agroekoteknologi, 1(3): 759-767.
Nurhayati. 2011. Epidemiologi Penyakit Tumbuhan. Palembang: Universitas Sriwijaya.
Paeru, R. H., dan T. Q. Dewi. 2007. Panduan Praktis Budidaya Jagung. Yogyakarta: Penebar Swadaya.
Pakki, S. 2016. Bionomi Penyakit Karat (Puccinia polysora) pada Jagung dan Pengendaliannya dengan Varietas Tahan dan Fungisida. Litbang pertanian.go.id (diakses pada tanggal 31 Oktober 2017).
Pakki, S., dan Burhanuddin. 2013. Peranan Varietas dan Fungisida dalam Dinamika Penularan Patogen Obligat Parasit dan Saprofit pada Tanaman Jagung. Balitsereal.litbang.pertanian.go.id (diakses pada tanggal 01 November 2017).
Puspawati, N. M., dan I. M. Sudarma. 2016. Epidemiologi Penyakit Karat pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Denpasar Selatan. Agrotrop, 6(2): 117-127.
Santoso, S. J., dan Sumarmi. 2013. Pengendalian Hayati Patogen Karat Daun dan Antraknosa Pada Tanaman Kedelai (Glicyne  max, Merr) Dengan Mikrobia Filoplen. Innofarm, 11(1): 35-43.
Talanca, A. H., dan A. Tenrirawe. 2015. Respon beberapa Varietas terhadap Penyakit Utama Jagung di Kabupaten Kediri Jawa Timur. Agrotan, 1(1): 67-78.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar